Thursday, August 22, 2013

Reka Ulang Pembunuhan Fransisca Yofie



Metrotvnews.com, Bandung: Rekonstruksi pembunuhan F Fransisca Yofie di enam lokasi memeragakan lebih dari 27 adegan, dengan durasi 15 menit per adegan, Kamis (22/8).

Selain dua tersangka, yakni Wawan dan Ade, turut hadir dalam reka ulang kasus pembunuhan sadis itu, kakak kandung korban Elfi dan Nefi.

Rekonstruksi pertama dilakukan di Jl Sukagalih dengan dikawal satu pleton atau sekitar 30 anggota Brimob. Baru pukul 09.20 WIB, kedua tersangka, yang dikawal anggota Brimob bersenjata lengkap, memeragakan empat kali adegan, mulai dari perencanaan hingga aksi penjambretan, sementara itu di lokasi kedua dilakukan sembilan adegan.

Sebelum memeragakan awal pembunuhan, kedua tersangka dengan mengenakan cadar dibawa ke masjid yang lokasinya tidak jauh dari lokasi mayat korban ditemukan. Di masjid itu, tersangka Wawan mengajak Ade menyebarkan proposal. Setelah itu, baru keduanya merencakan aksi penjambretan dengan bersenjatakan golok.

Dalam adegan  itu kedua tersangka yang menggunakan sepeda motor berputar arah atau belok kanan ke Jl Setra Indah dan langsung membawanya ke sebuah Pos Kamling, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi. Kedua tersangka sempat minum sebotol bir.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selain dipasang garis polisi sepanjang belasan meter, sebanyak 391 personel gabungan Polrestabes, Polsekta Cicendo, Polsekta Sukajadi dan Brimob Polda Jabar, melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi reka ulang.

Di tepat akhir rekontruksi, atau usai melakukan pembunuhan di Gang Sukawarna Baru, kelurahan Pajajaran Kecamatan Cicendo, sekitar pukul 13.20 WIB, kedua tersangka membuang golok yang dipakainya membacok Sisca ke sungai dengan kedalaman sekitar 7 meter.

Setelah itu, keduanya pergi berboncengan menuju Jl Sukawarna Baru D, komplek perumahan. Di tempat itu juga, keduanya sempat membuang jaket serta memberi Ade uang Rp50 ribu.

Kuasa hukum dua tersangka pembunuh Fransisca Yofie, Dian Rahadian menyatakan, kliennya tidak pernah bermaksud menghabisi nyawa korban. Niat awal tersangka tetap ingin menguasai harta korban yang diperkirakan disimpan dalam tasnya.

Dian mempersilahkan semua pihak untuk berasumsi dan menggunakan metode apa pun. Namun sejauh ini, tersangka memastikan perbuatan itu tidak pernah direncanakan, apalagi sampai membunuh dengan cara sadis.

"Kita hanya ingin membuktikan bahwa kedua tersangka tidak ada niatan membunuh. Dan, hanya bermaksud merampas tas korban," ujarnya.

Meski demikian, Diah menghargai semua pihak yang menyatakan adanya kejanggalan dalam kasus tersebut.

Sementara, kuasa hukum korban, Mohamad Tohir, mengungkapkan kejanggalan pada rekontruksi adalah panjang rambut Sisca yang disebutkan polisi terlalu panjang. Padahal rambutnya tidak lebih dari sebahu. 

“Kita melihat kejanggalan yang jadi masukan kepada polisi adalah soal rambut Sisca yang nempel di gir motor pelaku,” tandasnya.

Kejanggalan dala rekontruksi diungkapkan Reza, Salah seorang saksi mata. Menurutnya rekonstruksi tersebut tidak sesuai dengan fakta. 

“Rekonstruksi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, terutama saat korban terseret hingga korban menainggal,” ujar Reza, mewakili 21 orang saksi lainnya. (Eriez M Rizal)

Tuesday, August 20, 2013

You and Me





Di bawah naungan malam
gelap bercampur terang
terangnya rembulan,
memancar sinar kasmaran,
You and me,
together forever                  
                                                            You and me,
                                                             yah, just you and me
                                                             di bawah pohon cinta
                                                             terpadu, bersatu
                                                             Tanpa halangan,
                                                             Kau membuatku nyaman
                                                             once again, YOU AND ME,
                                                             together, FOREVER........

semangkuk Bakso

SEMANGKUK BAKSO


Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.”
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”
Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

"Presiden Kurang Kenceng Suaranya"

KOMPAS.com — Acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-68 Kemerdekaan RI di depan Istana Merdeka, Jakarta, telah berlalu. Untuk acara selama satu jam itu, dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk persiapannya.

Dalam acara geladi bersih, Kamis pagi, 15 Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir di panggung kehormatan. Presiden memang hampir tidak pernah absen mengikuti kegiatan ini.

Seusai mengikuti tahapan demi tahapan upacara, Presiden langsung menyampaikan lima koreksinya. Para menteri yang hadir berdiri mengelilingi Presiden dan menyimak.

Pembawa acara lamban

”Ada beberapa koreksi. Pertama, saya lihat semangatnya perlu ditingkatkan. Semangat itu termasuk pembawa acara, terlalu slow tadi,” katanya.

”Jadi, pembawa acara dinaikkan semangatnya, dinaikkan temponya, kemudian jangan terlalu rendah. Kalau semua slow, semua nanti kebawa. Padahal, ini hari merdeka, kita perlu energi untuk meramaikan ulang tahun kemerdekaan kita,” ujarnya.

Komandan upacara juga tidak luput dari koreksi Yudhoyono. Laporan yang disampaikan komandan upacara dinilai kurang semangat, belum ada penekanan- penekanan. Langkah komandan upacara juga diminta dipercepat.

”Dipercepat tempo langkahnya, tak-tak-tak. Demikian juga aba-abanya. Itu yang saya lihat karena saya sembilan kali jadi inspektur upacara, jadi mengerti mana yang kurang, mana yang sudah bagus,” kata Presiden.

Paduan suara juga tidak lepas dari koreksi Presiden. Menurut dia, lagu daerah yang dibawakan terlalu banyak dan lama sehingga perlu dikurangi. Lantas, lagu ”Bangga Jadi Anak Indonesia” yang dinyanyikan dinilai terlalu lambat temponya.

Volume pengeras suara juga tidak lepas dari koreksi Yudhoyono. ”Sound system sudah saya minta dinaikkan. Karena kalau sound system kurang, gegap gempitanya itu tidak muncul. Padahal, kekuatannya di situ,” katanya.

Gerakan korps musik yang tidak kompak saat mengangkat dan meletakkan alat musik juga mengganggu Presiden. Menurut dia, seharusnya cara mengangkat dan meletakkan alat musik itu bisa lebih kompak jika dilatih berkali-kali. 

”Saya lihat tadi mengganggu sekali,” ungkapnya.

Dalam ”sesi” koreksi itu, Presiden memberikan kesempatan kepada Ani Yudhoyono, istrinya, untuk menyampaikan koreksi. Ternyata yang dikoreksi justru volume suara Presiden sendiri. Tentu saja hal itu mengundang gelak tawa dari Presiden dan hadirin di situ.

”Presidennya kurang kenceng suaranya, padahal sudah periode kedua,” kata Presiden menirukan koreksi Ani sambil tertawa lebar. 

Canda tawa itu pun mengakhiri kegiatan geladi bersih. 

Hikmah: Pengemis Buta

PENGEMIS BUTA


Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.

Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.